Jakarta – Banyaknya warga Indonesia yang terjerat kasus narkoba menjadi perhatian Partai Demokrat. Bekerjasama dengan BNN, Demokrat menggelar seminar penyuluhan.

Acara bertajuk ‘Seminar Sumpah Pemuda di tengah Negara darurat narkoba, peran dan solusi Partai Demokrat’ digelar di Kantor DPP Demokrat, Jl Kramat Raya, Jakpus, Selasa (20/10/2015).

Puluhan kader Demokrat hadir dalam seminar ini. Tampak hadir Sekjen Demokrat Hinca IP Pandjaitan, Ketua DPD PD DKI Nachrowi Ramli, Anggota Dewan Pembina Partai Roy Marten, dan pembicara dari BNN, Deputi Pencegahan Antar MT Sianturi yang mewakili Kepala BNN Komjen Budi Waseso (Buwas).

“Indonesia darurat narkoba itu fakta. Saya ingin melalui seminar ini, hasilnya berani tidak tetapkan Indonesia sebagai darurat narkoba. Lalu apa yang akan dilakukan Demokrat sebagai solusinya? Sebab satu saja anak Indonesia tidak bisa diselamatkan dari narkoba itu artinya darurat,” ujar Hinca dalam acara tersebut.

Hinca menyatakan bahwa Partai Demokrat akan senantiasa membantu dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba. Itu menjadi salah satu fokus partai.

“BNN kau tidak sendirian. Demokrat akan membantu, peduli dan memberikan solusi. Saya jam 6 pagi bertemu dengan Bang Buwas, 7 hari setelah dilantik. Saya katakan ini, beliau matanya berkaca-kaca. Saya katakan, Bang Buwas tidak sendirian,” kata Hinca.

Sementara itu saat memberikan penyuluhan, Antar Sianturi menjelaskan kepada peserta seminar bahwa fakta permasalahan narkoba tahun ini ada 4 juta jiwa yang menjadi korban dari narkotika dalam usia populasi 10-59 tahun.

“Paling banyak Jakarta, bisa 5 persen. Hampir pasti tingkat meninggalnya lebih cepat, jadi lebih baik nggak usah pakai. Yang bahaya Indonesia jadi peredaran narkoba karena pemakai cukup besar di sini makanya jadi incaran bandar,” jelas Antar.

“Kenapa darurat narkoba, pemakai 4 juta jiwa sama seperti penduduk Singapura. 70 persen pengedaran narkoba dikendalikan dari dalam penjara. Di LP Cipinang mereka itu (bandar) di dinding-dinding punya peralatan langsung ke satelit. Duitnya tak terhitung,” sambungnya.

Ada beberapa faktor lain, yang disebutkan Antar, menjadi alasan mengapa Indonesia darurat narkoba. Pertama bisnis narkoba menghasilkan uang yang sangat besar sehingga menggiurkan banyak pihak.

“Ada kasus 862 kg sabu itu duitnya 1,7 T. Tapi jangan tergiur jadi pengedar,” tuturnya

Faktor lain adalah narkoba mudah masuk khususnya melalui jalur laut dan sungai-sungai. “Kita lagi incar yang dari jalur laut, masuknya dari Malaysia. Kata pak Buwas kita tenggelamkan itu kapal-kapal sama orangnya kalau ketangkep. Makanya takut mereka dan sekarang sandar di Malaysia. Agak susah mereka masuk. Tapi namanya jaringan bagusnya dipenjarakan,” tukas Antar.

Selain itu juga karena masih rendahnya niat para penyalahguna untuk pulih, tingginya angka coba pakai dan yang teratur memakai narkoba. Lalu maraknya peredaran narkoba di lapas, peredaran narkoba sudah merambah desa-desa bahkan siswa SD pun sudah menjadi sasaran, dan terakhir modus operandi peredaran narkoba yang berubah-ubah.

“Sekarang bandar juga berjualan lewat online shop ke kampus-kampus, sudah mulai juga ke sekolah-sekolah jadi hati-hati. Kalau saja 1 kader bisa selamatkan 1 orang, itu selesai sudah (permasalahan narkoba). Misalnya dari bapak ibu Demokrat,” ungkapnya

Partai Demokrat pun mengajak para kadernya untuk mau terlibat aktif dalam pemberantasan narkoba. Yakni dengan membantu melakukan sosialisasi

“Indonesia sudah masuk darurat narkoba. Kita harus melakukan sosialisasi. Berani tidak?” tantang Wasekjen PD Didi Irawadi kepada kader yang hadir dalam seminar

“Berani!” jawab para kader serentak.

(elz/jor)