BAGIKAN

“Hari ini kita sama-sama belajar untuk menjadi yang terbaik dimata Allah. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk kepentingan orang banyak. Hidup ini singkat dan hanya satu kali, manfaatkan tidak hanya untuk kepentingan sendiri. Allah beserta orang-orang peduli, Insyaallah ini akan diridhoi. Sekalipun surat resmi pendirian perkumpulan belum turun tapi hari ini aku tetapkan sebagai hari lahir Muhammadiyah. Ya Allah tunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalan yang Engkau telah beri nikmat, bukan jalan orang yang Engkau beri sesat. Aamiin.” Demikan perkataan seorang ulama terkenal, KH Ahmad Dahlan dalam Film Sang Pencerah saat pendirian Muhammadiyah, 107 tahun silam, tepatnya 8 Dzulhijah 1339 H/18 November 1912 M.

Sejak itu Muhammadiyah mendapat sambutan hangat tidak hanya dari kalangan kaum muda Islam, melainkan dari seluruh elemen bangsa.

Panglima Besar Jenderal Soedirman, salah satu tokoh Muhammadiyah-Hizbul Wathon, pada malam acara ta’aruf Muhammadiyah menyampaikan amanat khusus kepada warga perserikatan. Panglima besar mengatakan “Saudara-saudara anggota serta keluarga Muhammadiyah seluruhnya!. Amalkan semua putusan yang telah saudara tentukan bersama dan sebagai bekal perjuangan umat Islam seterusnya.”

Sejarah membuktikan bahwa Muhammadiyah sebagai anak kandung bangsa, banyak berbaur dengan proses panjang perjuangan Indonesia. dalam proses-proses “setting-social” tersebut Muhammadiyah dengan cita-citanya mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam sampai saat ini masih berdiri kokoh dan siap berjuang untuk umat dan bangsa.

Organisasi yang diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, agar gerakan Muhammadiyah dapat mengikuti keteladanan Nabi dengan maksud untuk berta’faul (berpengharapan baik), dapat mencontoh jejak perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam semata-mata demi terwujudnya Izzul Islam wal Muslimin, kejayaan Islam sebagai idealita dan kemulian hidup umat Islam sebagai realita.

Gerakan Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik. Menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya.

Muhammadiyah banyak merefleksikan kepada perintah-perintah Al Quran, di antaranya surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Ayat tersebut, menurut para tokoh Muhammadiyah, mengandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak, yang juga mengandung penegasan tentang hidup berorganisasi.

Maka dalam butir ke-6 Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, melancarkan amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi, yang mengandung makna pentingnya organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya. Sebagai dampak positif dari organisasi ini, kini telah banyak berdiri rumah sakit, panti asuhan, dan tempat pendidikan di seluruh Indonesia.

Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan cari hidup di Muhammadiyah. Semoga, Muhammadiyah makin maju dan unggul serta memberi makna dalam membangun peradaban umat, bangsa, dan kemanusiaan universal yang rahmatan lil-‘alamin dalam naungan Rahman dan Rahim Allah SWT.

Penulis: Abdussalam Bonde (Pengurus Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Bolmong)