BAGIKAN

KOTAMOBAGU – Bisnis kedai kopi saat ini sedang ngetren di setiap kalangan yang ada. Baik dari kalangan muda hingga orang tua. Banyaknya penikmat kopi yang ada membuat sebagian masyarakat rasanya ingin berbisnis kedai kopi.

Tak perlu di tempat yang ramai, seperti di pusat keramaian atau pun pusat perbelanjaan. Berbisnis kedai kopi juga bisa dilakukan di pedesaan.

Loading...

Contohnya, yang dilakukan Sumantri Ismail, warga Desa Moyag, Kecamatan Kotamobagu Timur, Kota Kotamobagu, yang memulai bisnis kedai kopi ini di Desa di mana dia tinggal.

Dia memanfaatkan potensi yang ada, untuk meraup rupiah. Melihat di Desa Moyag belum ada satupun kedai kopi, sehingga dirinya pun mencoba memulai dengan modal yang tidak begitu banyak.

Kedai kopi ini bernama Pondok Ngopi 43. Kenapa dinamakan Pondok Ngopi 43?, sebab kedai ini terbuat dari bahan utama bambu dan berbentuk pondok mini.

“Bisnis kedai kopi ini, dibangunnya dengan tahap demi tahap. Karena modal yang pas-pas an, sehingga untuk tempat masih status pinjam pakai,” ungkap Tri, sapaan akrab Sumantri.

Untuk bahan baku kopi, Tri menggunakan biji kopi lokal juga dari Desa Moyag, yakni Kopi Rinjing milik Eka Paduo. Karena menurutnya, dengan menggunakan biji kopi lokal, tentu bisa saling mendukung potensi bisnis kopi yang ada.

“Selain biji kopi lokal, saya juga mengimport biji kopi dari desa-desa lain bahkan dari luar daerah,” ujarnya.

Pun, ada yang menarik dari pengelolaan kedai kopi ini. Pasalnya, hasil dari secangkir kopi serta minuman lain yang dibeli, akan disedekahkan kepada yang membutuhkan sebesar 2,5 %.

“Jadi setiap konsumen yang datang, secara otomatis dia juga sudah bersedekah,” tutur Tri yang juga seorang jurnalis di media online di Sulut ini.