BAGIKAN

KOTAMOBAGU- Hampir setiap malam usai Salat Isya, permainan musik tradisional peninggalan Kerajaan Bolaang, bisa kita jumpai di replika Rumah Adat Komalig yang terletak di Desa Kopandakan 1, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Sulawesi Utara.

Permainan alat musik yang terdiri dari Golomang Koping, Gandang, Golantung, Maruas dan Suling ini, oleh masyarakat setempat dinamakan Mongulintang Adat.

Saat Mongulintang, sejumlah warga baik orang dewasa maupun remaja, memperagakan tarian khas Bolaang Mongondow Raya seperti tari Tuitan (tarian perang), tari Kabela (Tarian Penjemputan Tamu) hingga tari Dana-Dana.

Saat Mongulintang dan tarian diperagakan, banyak warga asyik menonton. Sesekali, pelatih Mongulintang dan tarian adat memberikan aba-aba agar suara musik tradisional dan tarian selaras dimulai hingga berhenti.

Mongulintang, Objek Wisata Budaya di Replika Rumah Adat Komalig Desa Kopandakan 1 Headline Kotamobagu Terkini

Menurut salah satu penggagas replika Komalig, Sumitro Tegela, Mongulintang tersebut pada jaman kerajaan Bolaang, digunakan pada acara-acara tertentu.

“Mongulintang ini pada masa kerajaan Bolaang, digunakan pada acara seperti acara perkawinan bahkan pada kedukaan,” kata Sumitro.

Kegiatan ini lanjutnya, akan diagendakan rutin setiap pekan di malam hari.

“Insha Allah akan rutin digelar. Sebenarnya hanya sekali setiap pekan pada malam Minggu. Namun karena antusias masyarakat sangat tinggi untuk latihan dan menyaksikan Mongulintang dan tarian adat, maka setiap malam kami gelar,” ujarnya.

Ia menambahkan, berdirinya Komalig dan fasilitas seperti alat musik tradisional dan peralatan peninggalan Kerajaan Bolaang, atas bantuan Kementrian Pendidikan dan Kebudayan (KemenDikbud) RI.

“Belum lengkap secar keseluruhan fasilitasnya. Namun dalam waktu dekat semua fasilitas akan segera diadakan,” kata Sumitro.

Ia berharap, dengan adanya Komalig dan kegiatan-kegiatan budaya yang digelar, akan mampu menjaga dan melestarikan kebudayaan asli tanah Totabuan.

“Dengan mengusung konsep Desa Budaya, Insha Allah dengan adanya Komalig ini akan bisa mendorong semangat masyarakat untuk tetap mempertahankan budaya kita sendiri di pesatnya perkembangan teknologi,” harapnya.