BAGIKAN

KOTAMOBAGU- Sekarang sudah ada banyak kedai kopi asyik dengan beragam tema keren di Kotamobagu. Binango’an Coffee adalah salah satunya.

Kedai kopi yang sebelumnya pernah dimuat di laman Portalmongondow.com tentang kearifan lokalnya ini, membikin penasaran masyarakat pecinta kopi.

Meski desain interior kekinian untuk memenuhi keinginan kaum millenial, namun kedai kopi yang berdiri di sudut lapangan olahraga Desa Poyowa Besar, Kecamatan Kotamobagu Selatan ini, tetap memberikan sentuhan budaya daerah Bolaang Mongondow Raya.

Meski berada di sudut kota, tapi tak membuat kedai kopi ini sepi dari pengunjungnya.

Yang menarik dari kedai kopi ini, semua tulisan sebagai dekorasi mural, menggunakan Bahasa Mongondow.

Seperti pada tulisan di bagian pintu masuk. Jika biasanya kita menjumpai kedai kopi yang bertuliskan Dibuka, Ditutup atau menggunakan bahasa Inggris Open dan Close, namun di sini, kita akan dijemput dengan tulisan ‘Binukatan’ saat kedai dibuka dan ‘Ilingkopan’ saat ditutup.

Tak hanya itu, kedai kopi milik Didin Paputungan ini, di bagian dalam ruangan, terdapat quote ‘Asal bo tumpal mongopi’ yang artinya, apapun itu asal ngopi bareng.

Gambar lucu sebuah keterangan yang menunjukan jenis kopi yang dijual, pun ditulis pakai bahasa daerah, yakni Binerak (Disobek) dan Giniling (Digiling), membuat kita akan selalu ingat akan identitas sebagai masyarakat bumi Totabuan.

“Saya awalnya hanya lihat di media sosial kedai kopi Binango’an ini. Karna unik, saya pun mencoba datang dan memang sangat keren sih, di zaman milenial yang serba bahasa asing, justru kedai ini konsisten pakai bahasa daerah di bagian tulisan dinding hingga nama kedai sendiri,” kata Chendra Mokoagow, warga Kotamobagu.

Ia pun bangga, ada anak muda yang berbisnis kedai kopi sebagai tempat nongkrong masa kini namun tak melupakan kearifan lokalnya.

“Keren pokoknya, patut dicontoh nih, sebagai anak Mongondow, bangga pastinya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Didin, pemilik Binango’an Coffee mengaku, sengaja mengangkat kearifan lokal di kedainya. Itu untuk menunjukan identitas diri sebagai masyarakat Bolaang Mongondow Raya.

“Jika di daerah lain seperti di pulau Jawa semua tempat usaha identik akan kearifan lokal, kenapa di daerah kita tidak. Semoga ini jadi edukasi juga. Kopi dan budaya itu sangat berkaitan. Yah, pokoknya tetap keren deh,” kata Didin.