BAGIKAN

BOLMONG – Ketua Umum Forum Perjuangan Rakyat Indonesia, Chandra Takser, menuding PT Conch North Sulawesi Cement, telah membuat resah warga Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Chandra mengatakan bahwa perusahaan semen dari Negeri Tiongkok tersebut, tidak mengakomodir ribuan tenaga kerja lokal. Dirinya menduga, bahwa PT Conch telah mempekerjakan tenaga asing dengan jumlah banyak secara tidak sah.

“Ketika ada kunjungan dari LSM dan wartawan baru-baru ke lokasi PT Conch, para pekerja asing asal Tiongkok lari menyembunyikan diri. Kalau tidak ada masalah, kenapa harus bersembunyi. Jangan-jangan mereka adalah pekerja ilegal,” katanya, dikutip mejahijau.com

Loading...

Sementara itu, salah satu Karyawan bagian HRD (Human Resources Departement) PT Conch, Tesya, ketika ditemui Selasa (26/11/2019) dikantornya membantah tudingan tersebut. Menurutnya, pihak perusahaan tidak mempekerjakan tenaga asing ilegal. Tesya menjelaskan, bahwa PT Chonch hanya mempekerjakan seratusan lebih tenaga asing.

“Ada 100 orang lebih pekerja asing di perusahaan, lebih banyak tenaga kerja lokal yang berasal dari wilayah lingkar tambang. Dan itu tercatat di Imigrasi dan Dinas Tenaga Kerja. Jadi, tidak benar kami mempekerjakan tenaga asing ilegal,” jelas Tesya.

Bahkan kata Tesya, pihak perusahaan sejak beberapa hari belakangan, belum pernah menerima kunjungan dari LSM maupun Wartawan. Karena jika ada kunjungan pasti ada laporan yang masuk ke pihaknya.

“Didepan kan ada pos sekuriti. Setiap tamu harus melapor dulu kalau ingin masuk. Itupun harus dengan alasan yang jelas,” ujarnya.

Terpisah, kepala kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Kotamobagu, Joni Rumagit, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (27/11/2019) menyayangkan tudingan tersebut, tanpa melakukan konfirmasi ke pihak Imigrasi dengan disertai data yang akurat.

Ia menjelaskan, berdasarkan data yang ada di kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Kotamobagu. Jumlah tenaga kerja asing yang ada di PT Chonch itu 134 orang, terdiri dari 114 orang sebagai pekerja di PT Chonch. 18 orang di PT MMC 17 dan 2 orang di PT Sungai Samudera. Dua perusahaan terakhir itu merupakan perusahaan sub kontraktor di PT Conch.

Menurut dugaannya, mungkin data yang diambil merupakan data tahun 2016 dan 2017 lalu. Karena, kata Rumagit, dengan jumlah 550 pekerja asing seperti yang disebutkan itu masih kurang.

“Bahkan lebih dari 600. Kami punya datanya karena ada izinnya. Itu data lama saat perusahaan masih sementara membangun. Saat itu, ada tujuh perusahaan asing yang mengerjakan infrastruktur PT Conch. Setelah selesai, perusahaan-perusahaan itu telah kembali ke negaranya bersama para pekerja,” ungkap ketua Tim Pengawas Orang Asing (Tim Pora) Kabupaten Bolaang Mongondow itu.

Rumagit menambahkan, baik instasinya, Tim Pora maupun masyarakat terlibat untuk melakukan pengawasan. Khusus orang asing, pihaknya terus melakukan penyuluhan, pembinaan, peringatan, dan bila diperlukan melakukan tindakan terukur.

“Tahun 2017 lalu kami pernah melakukan tindakan terhadap pekerja yang tidak memiliki dokumen lengkap atau penyalahgunaan izin. Namun bukan di PT Conch, tetapi di PT Sanghai, perusahaan sub kontraktor. Delapan orang kami deportasi,” ucap Rumagit.

“Kemarin (Selasa, 26 November 2019), kami baru saja melaksanakan pengukuhan Tim Pora tingkat kecamatan di kantor Bupati Bolmong. Itu salah satu bentuk keseriusan kami mengawasi orang asing,” tandasnya.

Senada juga seperti dikatakan, Kepala Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan Kabupaten Bolmong, Ramlah Mokodongan, menyebutkan, tenaga kerja lokal bekerja di PT Conch berjumlah 371 orang. Sedangkan pekerja asing berjumlah 141 orang. Ungkapnya, ketika dihubungi, Rabu (27/11/2019).

Ramlah menyampaikan, terkait pengawasan orang asing, pihaknya turut terlibat dalam Tim Pora. Namun khusus instansinya saat ini tidak punya kewenangan lagi, karena telah dikembalikan ke Pemerintah Provinsi.

“Untuk tahun 2019 ini belum ada laporan yang masuk ada kedapatan pekerja asing ilegal,” pungkas Ramlah.

Editor : Ismail Ambaru