BAGIKAN

BOLMONG – Semarak peringatan hari kemerdekaan 17 agustus 1945 kali ini, tahun 2020, nampak tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Jangankan perayaan yang harusnya disambut euforia, seperti permaianan rakyat pada umumnya: panjat pinang, lari kelereng, lari karung, makan kerupuk, hingga pesta rakyat dimalam kemerdekaan. Pelaksanaan upacara pun hanya dapat diselenggarakan dengan sangat terbatas. Apa sebabnya? Ialah Peraturan Presiden Nomor 11 tahun 2020 Tentang Penetapan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Peraturan inilah yang memberangus segala aktivitas kecerian rakyat dan segala hingar-bingarnya.

Mari sejenak kita merenung. Apakah sudah tepat cara kita mengisi/merayakan hari kemerdekaan selama ini, dengan permainan-permainan rakyat seperti diatas. Apakah perayaan seperti diatas itu bermanfaat? Atau perayaan diatas benar seperti yang diharapkan para pejuang? Sederet pertanyaan inilah yang mesti kita jawab bersama.

Dimomen perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 75 tahun, selain upacara yang rutin kita laksanakan/saksikan, ternyata ada cerita haru yang selama ini luput dari amatan. Kisah ini mungkin dapat mewakili ribuan orang dinegeri ini yang hidup hanya mengandalkan cuaca alam.

Merdeka Semu, Rakyat Kecil Tetap Kerja Bolmong Featured Headline Terkini
Foto Lian Lobata saat membersihkan kebun

 

Lian lobata namanya. Ayah dari tiga orang anak ini, berprofesi sebagai petani penggarap lahan diperkebunan itubu’, Desa Mopait, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow. Lahan yang ia garap merupakan milik orang lain. Meskipun kehidupannya hanya menggantungkan hasil dari kebun yang digarap, Lian terus berusaha agar memperoleh keuntungan yang maksimal. Kisah haru Lian Lobata saya dengar dari cerita kawan saya, Rivai Mokoagow, teman sejak kecil.

Penasaran, Minggu (23/08/2020), saya menuju ke lokasi perkebunan yang digarap oleh Lian, dengan mengendarai Motor Rambo (kendaraan roda dua yang sudah dimodifikasi). Perjalanan yang ditempuh, berjarak kurang lebih 10 kilometer dari desa saya. Untuk bisa mencapai puncak itubu’, jalanan yang dilaluipun cukup ekstrim, dengan melalui bukit terjal dan curam. Jika musim penghujan, maka tak satu pun kendaraan yang bisa melewati medan jalan tersebut.

Sesampainya ditujuan (perkebunan itubu’), saya langsung menghampiri Lian yang saat itu sedang asik menggulung tembakau; rokok, (monabaku sebutan dalam bahasa mongondow). Sambil saya menyapanya, yang saat itu sedang duduk melantai dipintu masuk gubuk tempat tinggalnya. Kelihatan dari raut wajah terpancar sebuah harapan. Karena kebetulan hari itu tepat di HUT Kemerdekaan RI ke-75 Tahun, ia mulai menikmati hasil kebun pertamanya.

Tak lama kemudian, saya mulai bertanya tentang pekerjaannya. Dalam obrolan itu, Lian mengungkapkan, bahwa hasil panen jagungnya kurang lebih 2 ton, yang ditanam dilahan seluas dua hektar. Hasil tersebut menurut dia, masih jauh dari apa yang diharapkan. “Saya tetap bersyukur. Hasil ini sudah cukup untuk menghidupi keluarga saya,” kata dia. Meskipun, tanaman jagungnya banyak diserang hama, seperti: tikus, babi hutan, burung hingga kera. Ia maklum saja. Karena areal perkebunan  tersebut memang berada ditengah hutan yang merupakan habitat satwa liar.

Merdeka Semu, Rakyat Kecil Tetap Kerja Bolmong Featured Headline Terkini
Foto suasana kebun yang ditanami jagung

Menurut lian, hasil panen itu tak sebanding dengan biaya perawatan sampai pada produksi, karena untuk sewa angkutan saja, terbilang cukup mahal akibat akses jalan yang belum bisa dilalui oleh kendaraan pada umumnya, terutama kendaraan roda empat. Untuk menjual hasil panen, ia membayar angkutan Rp 27.500 perkarungya. Karena harus menggunakan motor Rambo, serta memiliki skil tersendiri untuk melalui medan jalan yang sangat ekstrim. Meskipun begitu, Lian tetap memilih  berkebun di lahan tersebut, sebab tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup dalam kondisi pandemi saat ini.

Usai diskusi terkait hasil kebun, Lian kemudian membuatkan segelas kopi. Alangkah terkejutnya ketika saya tahu bahwa air yang digunakan untuk membuat kopi adalah air hujan. Saya pun langsung menanyakannya, terkait kebutuhan air minum yang dikonsumsi sehari-hari. Lian…, dimana tempat mengambil air untuk minum dan masak? tanya saya. “Areal dekat sini  tidak ada tempat mengambil air. Ada tetapi jauh, dibawah lereng bukit ini. Air yang kita gunakan untuk memasak dan minum itu adalah air hujan yang ditampung dalam wadah,” tutur Lian, sambil tersenyum.

Saya mulai mencicipi kopi dari air hujan. Dalam hati saya berkata, sungguh, ini pertama kali saya minum air hujan. Wah, ternyata rasanya tak jauh beda dengan kopi yang sering saya nikmati di café-café tempat saya nongkrong. Sejenak kamipun terdiam, sambil menikmati kopi panas dengan takaran pas disuasana pegunungan yang dingin disertai udara segar. Sontak saya mulai menseriusi pembicaraan ini, dengan bertanya ke papa nandi sapaan sehari-hari kami. “Berapa anaknya? Tiga, semuanya laki-laki,” jawabnya. (Percakapan ini menggunakan bahasa daerah).

Dari ketiga anak tersebut semuanya sekolah? Lanjut saya bertanya. “Yang putra pertama bernama Nandi, itu sudah tidak sekolah. Hanya sampai kelas 1 SMP kemudian berhenti. Saya dan ibunya yang memaksa dia untuk berhenti, karena sudah tidak mampu lagi membiayai sekolahnya. Begitu juga dengan yang kedua, hanya sampai kelas 5 SD, lalu berhenti. Sedangkan putra ketiga, sekarang sedang duduk dibangku kelas 3 SD,” ungkapnya.

Asik berbincang, tak terasa matahari perlahan mulai terbenam. Senja pun mulai nampak. Tubuh saya terasa mulai dingin. Sentuhan angin gunung membelaiku, menambah citarasa kopi air hujan yang saya seruput terasa begitu nikmat. Obrolan dilanjutkan. “Dihari kemerdekaan ini apa yang kamu lakukan? Apa? sahut Lian”. Dari raut wajah dan sorot matanya, kelihatan ia bingung dengan pertanyaan saya. Jadi, saya pun kembali mengulang dan mempertegas pertanyaan, dengan  memberi gambaran terkait hal-hal yang biasa dilakukan setiap memperingati hari kemerdekaan, seperti: mengecat pagar halaman rumah, memasang umbul-umbul atau ikut upacara? “Tidak ada. Hanya anak saya kedua yang memukul-mukul tiang listrik saat detik-detik upacara HUT Kemerdekaan. Kata mereka, itu sebagai bentuk penghormatan/penghargaan terhadap para pahlawan kemerdekaan,” tuturnya dengan nada polos.

Apa yang anda rasakan saat memperingati hari kemerdekaan seperti ini? “Eee… tidak ada. Karena pada hari itu juga sebenarnya saya harus segera ke kebun untuk panen Jagung,” ucapnya. Menurutnya, dimomen spesial ini tidak ada yang luar biasa. Biasa saja. Tidak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Hidup tetap susah. “Saya harus kerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya. Ia mengatakan, bahwa memaknai kemerdekaan itu sederhana saja. Karena pada  intinya, kita sebagai rakyat kecil ini harus tetap bekerja, banting tulang untuk keperluan dan kebutuhan makan buat keluarga. Ia meyakini merdeka itu harus ditunjukkan dengan bekerja keras.

Mendengar ceritanya, kehidupan keluarga ini terasa sulit. Bahkan untuk membantu kebutuhan sehari-hari saja, istrinya pun harus bekerja berjualan mie dan kue, sehingga kebutuhan keluarga dapat terpenuhi. “Selama ini kami jarang mendapatkan bantuan, kecuali bantuan sembako bagi keluarga yang terdampak covid-19. Dan alhamdulillah, sejak corona ini, saya masuk sebagai penerima bantuan sembako dari pemerintah,” ucapnya.

Harapannya, selain sembako, ia juga bisa mendapatkan bantuan lainnya, seperti bibit jagung, pupuk, dan alat pertanian. Disamping itu, ia berharap ada perbaikan akses jalan menuju perkebunan. “Kami yang berkebun disini sangat berharap, agar kedepan akses jalan menuju perkebunan itubu’ dapat segera diperbaiki. Ini untuk memudahkan kami membawa hasil panen,” pinta dia.

Penulis: Ismail Ambaru