KOTAMOBAGU- Persoalan sampah masih menjadi perhatian serius setiap daerah di Indonesia. Tak terkecuali Kotamobagu. Keluhan masyarakat didominasi oleh persoalan sampah tersebut.

Meski dengan adanya sarana dan prasarana yang disediakan oleh Pemerintah Daerah yang memadai, tak bisa menjamin penanggulangan sampah hingga 100 persen dengan kondisi volume sampah meningkat setiap tahunnya.

Hal itu juga turut dipengaruhi oleh kepemimpinan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai instansi terkait yang bertugas menangani persoalan sampah.

Dengan diumumkannya oleh Panitia Seleksi (Pansel) Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Kotamobagu, tentang peserta seleksi yang memenuhi syarat usai mengikuti Uji Kompetensi yang digelar beberapa waktu lalu, dipastikan DLH akan memiliki pimpinan yang berkompeten untuk menjalankan tugas dan fungsi demi memaksimalkan penanganan sampah di wilayah Kotamobagu.

Dalam surat pengumuman, untuk jabatan Pimpinan Tinggi Pratama pada Dinas Lingkungan Hidup, terdapat dua peserta yang dinyatakan memenuhi syarat untuk dipilih menjabat Kepala Dinas, yakni, Irawan Bambang Ginoga dan Alfian Hassan.

Dua nama ini sudah tidak asing bagi masyarakat Kotamobagu. Bambang Ginoga saat ini tercatat sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Pelaksana Tugas Kepala DLH Kotamobagu. Sementara Alfian Hassan, saat ini msih menjabat Kepala Bagian Ekonomi dan pernah menjabat Pelaksana Tugas Kepala DLH.

Salah satu dari dua nama itu, akan dipilih oleh Walikota Kotamobagu untuk dipercayakan memimpin DLH.

“Dari nama-nama yang diumumkan oleh Pansel, itu nantinya akan dipilih oleh Ibu Walikota. Itu kewenangan Walikota siapa yang akan diangkat,” ujar Anggota Pansel JPT Pratama Kotamobagu, Dedy Afandi Iman.

Terpisah, salah satu pemerhati lingkungan, Neno Karlina mengungkapkan, persoalan sampah harus benar-benar diseriusi oleh pemerintah khususnya instansi terkait.

Berharap agar siapa pun yang nanti terpilih, semoga konsisten dan benar-benar berkomitmen untuk berserius memerangi sampah. Sebab, persoalan sampah tidak akan selesai dengan mulut berbusa di setiap kegiatan ceremonial dan pencitraan diberita-berita. Butuh tindak lanjut, action, sebuah gerakan yang walau pun kecil tapi nyata dan bernilai,” harapnya.