KOTAMOBAGU– Usaha Panti pijat atau SPA di Kota Kotamobagu belakangan ini memang tumbuh subur. Usaha tersebut saat ini menjadi salah satu objek bisnis yang mampu menarik wisatawan lokal maupun interlokal.

Panti pijat atau SPA diyakini tidak hanya menghilangkan rasa capek, namun juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh karena memperlancar peredaran darah. Sehingga, Tidak sediki para wisatawan yang datang langsung mengunjungi tempat ini di Kotamobagu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotamobagu Agung Adati mengatakan, keberadaan panti pijat di Kotamobagu memang menjadi daya tarik wisata di kotamobagu. Selain itu, panti pijat juga dapat memberikan kontribusi lebih terjadap pengembangan wisata di kotamobagu.

“Pengembangan wisata lewat sektor jasa di Kotamobagu memang menjadi fokus kami. Pantai pijat tradisional merupakan juga salah satu penunjang wisata di kotamobagu. Jadi keberadaan panti pijat ini memang menjadi salah satu yang dibutuhkan oleh masyarakat yang datang di kotamobagu. Maka, dengan adanya panti pijat tradisional dan spa tentunya dapat menarik banyak orang untuk datang ke kotamobagu,” ujar Agung.

Pihaknyapun terus melakukan pengawasan terhadap panti pijat dan spa yang ada sebab, keberadaan usaha tersebut sudah menjadi kesan yang kadang-kadang dinilai mesum oleh banyak masyarakat.

“Tentu kita tidak berharap panti pijat di kotamobagu menjadi aset wisata yang tidak disalahgunakan, atau difungsikan ke hal-hal yang negatif. Kalau memang ada yang tidak sesuai dengan izin, maka tentu pemerintah akan mengambil langkah untuk menindak tegas berupa pencabutan izin dan penutupan. Tappi tentu ada tahapan-tahapan yang akan dilakukan oleh pemerintah dan kewenangannya ada di SatpolPP. Namun kita semu berharap di kotamobahu tidak ada,” kata Agung.

Sementara itu, berdasarkan data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kotamobagu menyebutkan, terdapat 10 panti pijat yang sedang beroperasi di Kotamobagu.

“Jumlah panti pijat dan SPA di Kotamobagu mencapai 10. Ada yang bangunan sendiri, ada juga yang di perhotelan,” ungkap Kepala Seksi Peningkatan Pelayanan Eka Hermawan Sukoco.

Bahkan, kegiatan usaha panti pijat dan spa di Kotamobagu terus ditertibkan oleh Pemkot untuk menghilang kesan mesum tersebut. Berbagai operasi terus dilancarkan, baik operasi penertiban izin usaha, seperti izin HO (gangguan), Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

“Karena, Pemkot Kotamobagu menginginkan agar usaha Pijat dan Spa benar-benar bisa menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Kota Kotamobagu,” pungkasnya.