KOTAMOBAGU– Hijabers Kotamobagu turut ambil bagian dalam kegiatan Konser Amal dan penggalangan dana untuk Palu, Sigi dan Donggala yang digelar oleh Sahabat Town, Sabtu (06/10/2018).

Di kegaiatan itu, mereka membacakan puisi karangan Hamri Manoppo dan Heri Mulyadi.

Saat puisi untuk korban gempa dan tsunami yang menewaskan ribuan warga Sulawesi Tengah itu dibacakan, sejenak masyarakat sekitar terdiam haru.

“Doa kami, semoga Allah SWT memberikan kesabaran atas ujianNya bagi saudara-saudara kita di Palu, Sigi dan Donggala,” ujar Martika Sandra.

Berikut isi puisi yang dibacakan Hijabers Kotamobagu:

 

TUHAN BOLEHKAH KUAJAK DAMAI?

Karangan Hamri Manoppo, dibawakan oleh Martika Sandra.

Tuhan, ayah, ibu kami hilang, hotel kami roboh, jalan kami hancur lebur, rumah kami porak poranda, semua..

tak ada lagi Tuhan

syukur yang tertinggal iman…

Tuhan, banyak kami berucap, adakah kami salah adat dan singkap ucap ? di kanan kiri kami Malaikat mungkar-Mu berkelebat pagi petang, sore dan malam, di reruntuhan banyak yang nyawa meregang

seperti permainan?

jika kering air mata saudara, kemana kami membelinya, di ombakkah yg murka, atau angin dasyat yang menyayat?

Tuhan, di ladang kuasa, kami tak lebih dari sebiji zahra, tapi rindu kami pada ridhomu gunung uhud bukanlah tara

Gempa gelombang air lumpur batu dan tanah

mandikan kami bencana

kami lelah memikirkannya, adakah asa yg membahana sebagai wujud damai segala hamba?

Tuhan, air mata kami mengalir tak henti,

jerit derita tiada tara

perih pedih hancurkan raga, hidup kami terkubur nestapa, asa, asa..

masih ada

Tuhan, mata sayu dihimpitan reruntuhan itu

dalam nafas satu satu

berkata sendu

bolehkah kita damai Tuhanku

 

 

PALU NAN PILU, DONGGALA NAN LUKA

Karangan Heri Mulyadi, dibawakan oleh Sri Paputungan.

Wajah-wajah itu

pancarkan duka tak berdaya,

kering sudah air mata.

di sini,

tak ada bahtera Nuh saat lidah tsunami menyapu, usai bumi berguncang dahsyat,

rumah-rumah berjalan, tanah-tanah terbelah.

Cuma pilu,

teriak panik, takut mencekam,

kiamatkah? Bumi seakan menggulung tiada ampun.

lalu,

yang tersisa hanya hampa

tatapan kosong.

“makan, makan….

air, air, air…..” lamat, lirih terdengar dari mulut-mulut kecil lunglai tanpa kuasa.

mayat-mayat bergelimpangan,

rumah-rumah lebur,

gedung-gedung hancur,

jalan terlipat-lipat,

orang-orang tertimbun lumpur, tanah dan rerentuhan,

jangan kau tanya,

tak cukup kata berkabar.

dan di sana….

lihatlah, di pinggir jalan terlipat itu

setitik jejak hidup memberi tanda,

tubuh-tubuh kecil berbalut lumpur

mengaiskan tangan-tangan mungil,

tanpa jijik, demi sedikit bekas pengganjal perut yang tersisa, ditingkah bau mayat yang mulai menyengat.

Oh, Tuhan….,

takdirkah ini

atau murka yang Engkau tumpah?

aku terkulai

tak mampu tegak di bingkai kuasa-Mu.

“Engkau mengambil apa yang Engkau mau, walau Nuh tak bersama kami.”

Palu, 2 Oktober 2018 (Digubah dari status Lismayana, Ketua KKTI yang turun menyalurkan bantuan ke lokasi bencana)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here