KOTAMOBAGU – Pengadilan Negeri (PN) Kotamobagu kembali menggelar sidang lanjutan sengketa tanah di Kelurahan Gogagoman, RT 25/08, lingkungan IV, dengan nomor 70/Pdt.G/2017/PN ktg, antara Dr Sientje Mokoginta (Penggugat) dan Adri Lomban dkk (Tergugat), Selasa (07/8/2018)

Sidang dipimpin langsung ketua Majelis Hakim, Nova Sasube SH, MH, beserta dua Hakim anggota, Danes Romy SH dan Bernandus papendang SH.

Dalam persidangan itu, dihadiri penasehat hukum (PH) penggugat Bobby Kaunang SH.MH dan Steiven SH.MH dan PH tergugat Laura Lombogia SH serta Alfrits Mamahit dari kantor Badan Pertanahan Nasioanl (BPN) Kotamobagu.

Dalam persidangan, pihak tergugat menghadirkan tiga saksi menguntungkan, yakni, Abdul Kadir Paputungan, mantan camat Kotamobagu Barat, Hi Nini Mokodompit, mantan Lurah Gogagoman, Mahmud Soleman mantan Sekretaris Kelurahan dan Nus Takasihaeng saksi tergugat dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Nini Mokodompit, mengatakan dalam kesaksian, jika Ia mengetahui adanya penerbitan sertifikat tanah milik (SHM) Nomor 2567 Tahun 2009 milik (Alm) Marthen Mokoginta, tetapi ketika dihadapan persidangan Ia menjelaskan bahwa proses pengukuran tanah tersebut, tidak dipublikasikan ke masyarakat.

Sementara itu saksi lainnya, Mahmud Soleman yang juga mantan pegawai kelurahan mengatakan, bahwa berkas-berkas penerbitan SHM 2567 Tahun 2009 menrutnya masih tersimpan di kantor kelurahan. Abdul Kadir Paputungan menambahkan, waktu itu dirinya yang masih menjabat camat sekaligus PPAT, yang memproses berkas, yang sudah melalui kantor kelurahan Gogagoman.

Nus Takasihaeng sebelumnya pada persidangan di PTUN Manado tahun lalu, pernah bersaksi untuk tergugat dan sekarang bersaksi untuk BPN Kotamobagu.

Terpisah, Kuasa Hukum dari penggugat, Bobby Kaunang SH MH setelah selesai sidang mengatakan, jika keterangan dari ketiga saksi yang dihadirkan oleh pihak tergugat, tidak mengatakan yang sebenarnya.

“Apalagi terkait dengan saksi tergugat P18, yang sebelumnya pernah menjadi saksi di pihak kami, pada waktu di PTUN Manado yang sudah dimenangkan oleh penggugat, tiba-tiba hadir sebagai saksi untuk pertanahan, hal ini patut untuk dipertanyakan,” kata Bobby.

Lebih lanjut, Bobby menerangkan jika saksi yang tadinya pernah membela penggugat, kini ia membela pertanahan. Dalam persidangan pihaknya bertanya sesuai dengan fakta persidangan, apalagi pihak pengugat dibuat bertanya tentang sertifikat atas nama Lina Mokoginta, yang pada waktu itu sebagai pejabat pendaftaran dan pengukuran.

“Pada intinya mereka sepertinya banyak berkata bohong tidak sesuai dengan fakta bicara, akan tetapi hal itu kami serahkan semuanya langsung kepada majelis hakim biar majelis hakim yang menilai semuanya,” pungkasnya.