KOTAMOBAGU– Tindakan salah satu orator dalam unjuk rasa di kantor Panwaslu Kotamobagu, dengan menyebut kata anjing, kepada personil Panwaslu, Kamis (12/7/2018) kemarin, menuai reaksi sejumlah tokoh.

Salah satu aktivis mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, Makassar, asal Kotamobagu, Febry Bambuena, menyayangkan sikap oknum orator tersebut yang dianggap tak memiliki etika dalam menyampaikan pendapat di depan publik.

“Memang dalam negara demokrasi, setiap orang berhak menyampaikan pendapat di depan umum. Tapi etika dalam penyampaian pendapat wajib kita pakai,” kata Febry kepada Portal Mongondow, Jumat (13/7/2018).

Baca : Anggota Panwaslu Diteriaki Anjing oleh Pengunjuk Rasa

Mahasiswa fakultas Ilmu Politik ini menilai, isi orasi unjuk rasa pendukung paslon Jadi-Jo ke Panwaslu, tidak memiliki substansi terhadap tuntutan mereka.

“Isi orasi dalam aksi kemarin itu pada dasarnya tidak memiliki substansi dari tuntutan mereka. Yang ada hanyalah makian yang hanya menunjukan kualitas intelektual mereka sama saja dengan penjual binatang,” katanya.

Menurutnya, aksi unjuk rasa tersebut dianggap hanya perjuangan kepentingan politik oknum tertentu.

“Orasi itu adalah pengejewantahan isi kepala kita, apa yang kita sampaikan itu yang kita pikirkan. Jadi menurut saya aksi kemarin itu bukanlah perjuangan kebenaran, tapi perjuangan kepenting politik mereka,” ujarnya.

Ia pun menyarankan, agar Panwaslu Kotamobagu harus mengambil langkah hukum terhadap oknum orator tersebut.

“Adab kemongondowan kita dan etika penyampaian pendapat sudah dilanggar. Ini sama halnya dengan tindakan Ahmad Dani pada Aksi 411 yang menghina Presiden lewat orasinya yang berbuntut hingga ke meja persidangan. Sehingga itu, saran saya Panwaslu mengambi langkah hukum terhadap cacian oknum orator itu,” pungkasnya