KOTAMOBAGU– Siapa yang tak tahu jamu. Obat herbal yang diracik dari bahan-bahan alami ini sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Selain itu, mengkonsumsi jamu berbeda dengan obat kimia yang dijual di apotek atau toko obat lainnya. Jamu tidak memiliki efek samping bagi kesehatan tubuh.

Di Kotamobagu, ada seorang peracik dan penjual jamu yang sering menjajakan jamunya di kantor Walikota Kotamobagu. Mba’ Novi namanya panggilannya.

Setiap pagi di hari Senin hingga Jumat, perempuan dua anak, asal Kelurahan Gogagoman ini, sudah berada di kantor Walikota dengan jamu buatannya yang siap dikonsumsi para PNS maupun tenaga kontrak. Bahkan, banyak ASN hingga para pejabat Pemkot sudah menjadi langganan tetapnya.

“Saya sudah jadi pelanggan tetap jamu buatan Mba’ Novi. Sebelum bekerja, saya mengkonsumsi jamu terlebih dahulu agar badan terasa segar dan pastinya bersemangat saat bekerja,” ujar Guntur Niu.

“Jamu ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai pegawai. Sebab, selain sehat karena dari bahan herbal alami, jamu ini juga tidak memiliki efek samping,” tambahnya.

Baca : Tingkatkan Produksi Nanas, Tatong Bara Teken MoU Bersama Bank Indonesia

Dengan bejualan jamu, Mba’ Novi juga mampu membiayai sekolah kedua anaknya. Meski penghasilan jamu tidak begitu besar, namun profesi ini terus ditekuni Mba’ Novi.

“Alhamdulillah, rezeki berjualan jamu ini sangat disyukuri. Untuk biaya keperluan sehari-hari bisa terpenuhi dari hasil penjualan jamu,” kata Mba’ Novi.

Setiap penjualan jamu per harinya, Mba’ Novi mampu meraup keuntungan sebesar Rp300 ribu.

“Sudah lumayan sekali. Sebab, suami saya juga berjualan bakso, sehingga pendapatan kami bisa untuk biaya hidup dan kebutuhan sekolah anak,” ujarnya.

Mba’ Novi mengaku, bahan baku pembuatan jamu tidak sulit ditemukan. Namun, dirinya harus selektif dalam memilih bahan jamu agar mendapatkan kualitas yang baik dan sehat.

“Di pasar sangat banyak yang menjual bahan baku pembuatan jamu, seperti jahe, beras kencur, temulawak, gula aren, madu¬† dan lainnya. Bahannya harus yang segar, agar jamu yang dihasilkan akan berkualitas baik,” katanya.

“Karena tidak menggunakan bahan pengawet, maka jamu yang sudah diolah langsung dipasarkan. Jika sudah lewat dua hari, jamu sudah harus dibuang karena sudah tidak baik bagi tubuh,” katanya.

Ia pun berharap, jamu miliknya akan bisa membantu kesehatan masyarakat khususnya ASN di Pemkot Kotamobagu.

“Alhamdulillah, selama kurang kebih 12 tahun berjualan jamu tidak ada keluhan dari konsumen. Bahkan banyak yang menawarkan untuk jadi pelanggan tetap. Saya pun sudah melayani pesan antar. Semoga jamu ini berkah bagi kita semua termasuk kami sekeluarga di rumah,” harapnya.