Tari Bogani saat penampilan di acara Gebyar Kulipot.

BOLMONG – Tari Bogani merupakan tarian yang menceritakan tentang betapa kuat dan tangkasnya Bogani (Patriot jaman dahulu dari suku Mongondow), untuk menjaga keamanan Raja dan keluarganya serta Komalig (Istana Raja).

“Penciptaan tari Bogani terinspirasi dari sejarah Bolaang Mongondow dan dari cerita rakyat,” tutur H Hamim Ambaru(70), tokoh masyarakat Desa Mopait yang menciptakan tarian ini.

Kostum yang digunakan para penari, dibuat hampir menyerupai sebagaimana yang digunakan Bogani, seperti lenso (ikat kepala), binandangan (selempang) dan pengke (kain penutup tubuh bagian bawah).

“Ada juga tombak dan perisai. Pakaiannya memang tidak sama persis sebab sudah ada penambahan seperti baju. Ini untuk menambah daya tarik saja sebagai kebutuhan Pariwisata,” kata kakek yang masih mengajar di SMK 1 Kotamobagu.

Salah satu penari saat mengenakan kostum Tarian Bogani .

Tarian ini diciptakan pada bulan Juli 2017, sebulan setelahnya, tarian ini ditampilkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, mewakili Provinsi Sulut pada lomba seni siswa tingkat nasional, dan menjadi terbaik kesembilan dari 34 provinsi.

“Ini juga pernah ditampilkan di acara Kemenag di Lolak dan di pesta-pesta pernikahan. Untuk hari ini, pertama kalinya ditampilkan dihadapan Bupati Yasti,” ujar pemilik Sanggar Mokosambe saat akan mementaskan Tari Bogani di Gebyar Kulipot di desanya, Sabtu (23/6/2018).

Anak-anak sanggar Mokosambe saat menari tarian Monoimama.

Hi Hamim Ambaru dikenal memiliki dedikasi tinggi terhadap kesenian Bolaang Mongondow. Selain Tari Bogani dan beberapa tarian lainnya, ia juga baru menciptakan Tari Monoimama, yakni tarian yang menceritakan tentang adat Mogama.

“Biasanya sebelum adat mogama, keluarga mempelai pria menyuguhkan pinang kepada mempelai wanita sebagai pertanda ikhlas menerima pengantin wanita dan keluarganya di rumah pengantin pria. Tarian ini bercerita tentang itu,” katanya.

Menurutnya, Tarian Monoimama juga akan ikut diperlombakan di ajang tari siswa tingkat nasional di Aceh nanti.

Penulis : Rahmat Putra