Safran Gilalom

BOLMONG – Sakit penyempitan tulang belakang yang dialami Safran Gilalom (45), warga Desa Ibolian, Kecamatan Dumoga Tengah,Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, menyebabkan kakinya harus diikat bertahun-tahun.

Safran mengaku, sengaja kedua kaki diikat dengan kain karena sering mengalami kejang-kejang yang menyebabkan kakinya terangkat dan seluruh badan sakit. Dengan kaki terikat, ia merasa nyaman di tempat tidur.

“Tahun 2005 saya masih bisa berjalan menggunakan tongkat sebagai alat bantu, namun sejak tahun 2008 sampai sekarang tidak bisa lagi bangun dari tempat tidur, saya juga sering mengalami kejang kejang dan sakit luar biasa,” kata Safran, Kamis (24/11).

Tak hanya badan yang sulit digerakkan, bagian kaki melepuh akibat panas yang sering muncul. Dokter menyatakan, ia mengalami penyakit penyempitan tulang belakang dan harus berobat ke rumah sakit di jakarta.

“Hasil pemeriksaan dokter, saya dinyatakan mengalami sakit penyempitan tulang belakang. Dokter memberikan rujukan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta untuk berobat,” ujarnya.

Tak memiliki biaya untuk berobat, safran terpaksa menjalani kesehariannya di tempat tidur dan dirawat seadanya oleh keluarga tanpa penanganan secara medis.

“Bibi yang merawat. Saya kasian juga, ia sudah tua dan sakit-sakitan,” katanya sedih.

Saat ini, kondisi safran semakin memburuk dan memerlukan penanganan serius secara medis. Ia hanya berharap ada yang mau membantu untuk menjalani pengobatan.