Walikota Kotamobagu, Ir Tatong Bara, memimpin upacara peringatan Hari Kartini, dengan menggunakan 'Salu'
Walikota Kotamobagu, Ir Tatong Bara, memimpin upacara peringatan Hari Kartini, dengan menggunakan 'Salu'
Walikota Kotamobagu, Ir Tatong Bara, memimpin upacara peringatan Hari Kartini, dengan menggunakan ‘Salu’

Kotamobagu, portalmongondow.com – Raden Ajeng (RA) Kartini yang kita kenal sebagai sosok Pahlawan Nasional dalam hal emansipasi wanita, memang lahir di Kota Jepara, 21 April, 137 tahun silam. Lahir di tengah keluarga bangsawan, RA Kartini dalam kesehariannya identik dengan tradisi Jawa.

Namun, bagaimana jika RA Kartini lahir dan dibesarkan di Kota Kotamobagu? Ini memang hanya sebuah pengandaian. Tetapi pengandaian yang lahir dari ucapan Walikota Kotamobagu, Ir Tatong Bara ini, ternyata sarat makna.

Memimpin upacara peringatan Hari Kartini, Kamis (21/04/2016), pagi tadi, Walikota Ir Tatong Bara, menyampaikan pengandaian tersebut di hadapan seluruh peserta upacara dan undangan yang hadir di Lapangan Kota Kotamobagu, sembari menceritakan ihwal bermulanya pengandaian.

Bukan tanpa maksud, ungkapan pengandaian Tatong tersebut, ternyata merujuk pada persoalan Tradisi, akar Budaya.

“Sejumlah pihak meminta saya menggunakan baju Kebaya untuk upacara peringatan Hari Kartini pagi ini,” ujar Tatong mengawali kisah.

Atas permintaan tersebut, Walikota Perempuan Pertama hasil pilihan rakyat Kotamobagu ini, kemudian lebih memilih menggunakan ‘Salu’ atau pakaian adat khas Mongondow yang mirip kebaya.

“Saya kemudian katakan, andai Ibu Kartini lahir di Kotamobagu, pasti dia akan menggunakan Salu,” lanjutnya.

Tatong kemudian menjelaskan filosofi atas pengandaian yang dilontarkan tersebut. Dirinya lantas menekankan pentingnya mengenang jasa RA Kartini, tanpa mengesampingkan identitas budaya lokal, Bolaang Mongondow.

“Ini bukan persoalan bajunya. Tapi bagaimana kita menjiwai perjuangan yang telah dirintis Ibu Kartini. Dan saya kira Kartini-kartini di Kotamobagu, memiliki kekhususan budaya sendiri. Maka mari kita jadikan momentum Hari Kartini ini untuk mengaktualisasi diri dan meraih berbagai prestasi dengan kekhasan budaya yang kita miliki,” tandas Tatong. (iman)