60 ton sampah setiap hari
Proses pengolahan sampah di TPA Desa Poyowa Kecil, Kotamobagu Selatan

Seorang pekerja sedang mengolah sampah di TPA Desa Poyowa Kecil, Kotamobagu Selatan
Seorang pekerja sedang mengolah sampah di TPA Desa Poyowa Kecil, Kotamobagu Selatan

Kotamobagu, portalmongondow.com – Hidup di tengah tumpukan sampah yang menggunung, bagi kebanyakan orang, memang bukanlah hal yang menggenakkan. Terlebih, jika gunungan sampah itu lekat dengan keseharian seseorang. Namun bagaimana jika gunungan sampah yang ada, justru menjajikan rupiah yang tidak sedikit?

Barangkali itulah yang dirasakan Ibu Nuryatun, wanita paruh baya asal Lamongan, Jawa Timur, yang dalam kesehariannya mengais asa di tengah tumpukan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA), desa Poyowa Kecil, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu.

Nuryatun memang bukanlah pemulung sampah. Namun bekerja sebagai pengelola sampah di lokasi TPA, tetap saja membuat dirinya tak dapat mengelak dari sengat sampah yang membusuk.

“Saya mulai mengelola sampah disini pada Agustus tahun lalu. Awalnya memang terganggu dengan bau busuk. Tapi lama kelamaan mulai terbiasa,” tutur Nuryatun, saat diwawancarai portalmongondow.com, Sabtu (26/03/2016), petang tadi.

Ibu tiga orang anak ini, lantas menerangkan proses pengolahan sampah yang dilakukan dirinya bersama sejumlah rekan, hingga sampah-sampah yang ada menjadi pantas ditukar dengan rupiah.

Ibu Nuryatun saat diwawancarai di lokasi pengolahan sampah
Ibu Nuryatun saat diwawancarai di lokasi pengolahan sampah, di TPA Desa Poyowa Kecil, Kotamobagu Selatan

“Disini ada delapan orang pekerja. Mereka ini yang kerjanya memilah sampah dari para pemulung, berdasarkan jenis sampah. Khusus untuk sampah kardus serta plastik berupa botol air mineral dan sejenisnya, itu dimasukan ke dalam mesin press. Sementara sampah besi, tembaga dan aluminium langsung dijual ke penadah besi tua,” terangnya.

Meski terkesan malu-malu saat ditanyakan angka keuntungan yang bisa diraup dari sampah-sampah olahan tersebut, Namun Nuryatun menerangkan, keuntungan yang ada bisa mencapai angka hingga puluhan juta rupiah.

“Khusus untuk sampah plastik yang kami bayar seribu rupiah ke pemulung, itu dijual lagi dengan harga dua ribu lima ratus rupiah. Sementara produksi per bulan bisa mencapai dua puluh satu ton. Jadi, dalam sebulan keuntungan dari sampah plastik sekitar tiga puluh jutaan rupiah. Akan tetapi keuntungan itu masih akan dipotong dengan gaji para pekerja, biaya air dan listrik serta operasional mesin press,” jelasnya lagi.

Selain mensyukuri rejeki yang diperoleh dirinya, secara khusus, Nuryatun juga berterimakasih kepada Pemerintah Kota Kotamobagu, atas fasilitas yang diperolehnya melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH).

“Terutama mesin Press yang merupakan bantuan dari Pemerintah Daerah, itu sangat membantu kami dalam melakukan pengolahan,” tandasnya. (TR1)